A Year in Madania School
Tak terasa sudah 1 tahun 40 hari saya bekerja di Sekolah Madania Makassar. Sesungguhnya apa yang saya lakukan sekarang bukanlah bagian dari rencana saya 2 tahun yang lalu sebelum melanjutkan studi di pasca sarjana UNM. Harapan saya sebelumnya adalah bisa berprofesi sebagai dosen. Namun takdir berkata lain, Allah telah menentukan untuk beribadah, mengajar di sekolah ini. Setelah tidak lulus dalam seleksi CPNS, saya mulai melamar di beberapa kampus swasta dan sekolah swasta, kampus swasta tak ada panggilan. Namun di beberapa sekolah swasta ada panggilan tes. Namun di antara sekolah yang menerima, saya memilih Sekolah Madania Makassar. Kenapa? Untuk beberapa tahun pengalaman mengajar, saya tak mencari lagi pekerjaan yang memberikan saya gaji tinggi atau sekolah itu terkenal. Namun, pertimbangan saya adalah sistem pembelajaran yang tepat. Sekolah ini memberikan saya kesempatan bagi saya mengeksplorasi kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki.

Saya melamar di sekolah ini dengan posisi guru bahasa Inggris. Allah memberikan saya lebih, tak hanya bisa diterima, saya juga ditawari posisi yang menarik untuk fresh gradĂșate pasca sarjana dengan usia yang mungkin belum matang untuk memperoleh posisi itu. Mereka mempercayai kemampuan saya, oleh karena itu posisi koordinator yang katanya setara dengan wakil kepala sekolah untuk tingkat SMP itu saya terima. Karena masih merintis, kami hanya memiliki satu kelas saja dengan 10 siswa dimana saya sebagai guru Bahasa Inggris dan IPS, merangkap wali kelas dan koordinator.
Meski ini skala kecil, namun saya menyusun program saya dengan sebaik mungkin. Saya mencoba keluar dari program-program dari Sekolah di pusat. Saya ingin membuktikan bahwa dimanapun kita berada, kota besar seperti Jakarta atau Bandung atau kota sedang seperti Makassar bisa melakukan yang terbaik, asal mau saja.
Tidak hanya program, saya menerapkan berbagai macam metode dalam pengajaran. Ketika mendapati murid saya kurang mengerti, saya tak puas, saya selalu mencari cara bagaimana agar bisa membuat mereka nyaman dengan pelajaran saya. Saya jadinya lebih banyak menggunakan pembelajaran berbasis projek. Metode ini sangat ampuh, semua siswa bisa terlibat, meski mereka punya gaya belajar yang berbeda. Semester pertama berakhir dengan pementasan Drama Oliver Twist diselenggarakan malam hari dengan hiasan obor dan dilengkapi dengan suguhan video perjalanan murid dan guru selama satu semester dan sarabba beserta gorengan. Alhasil apresiasi dari orang tua siswa sangatlah baik.
Semester 2 ini akan berakhir, banyak juga program-program yang telah berjalan. Saatnya saya member semngat dan wejangan kepada mereka bahwa pembelajar itu belajar dengan siapapun. Bahwa hidup tak selalu statis. Tidak semua yang kita inginkan itu kita dapatkan. Atau tak semua yang kita rencanakan sesuai dengan apa yang terjadi.
Satu tahun pembelajaran dengan mereka akan berlalu pada beberapa minggu lagi. Saya pada satu tahun ini tak hanya membelajarkan siswa namun saya juga belajar dari mereka, belajar dari guru lain, OB di sekolah, staf, kepala sekolah, dll. Satu pelajaran yang sangat berkesan adalah ketika kita mampu bersabar maka tunggulah hasil yang akan kita peroleh pun akan indah. Itulah janji Tuhan kepada hambaNya yang bersabar. Saya sungguh yakin dengan itu.
Terimakasih untuk Sekolah Madania atas kesempatan besar yang diberikan kepada saya. Tak hanya kesempatan berkarir, pengembangan diri dan pelajaran hidup telah banyak saya peroleh di sekolah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini