Memposisikan Diri
Menyapa teman adalah kebiasaan yang sulit dihapuskan. Itu yang kulakukan ketika lagi online di facebook. Menyapa miss Chicie, rekan kerja di tempat kaerja sebelumnya. Dari chattingan itu maka kami sepakat, saya akan mengunjungi rumahnya hari ini.
Sekitar pukul 12 saya tiba di rumahnya. Kami bersalaman, duduk, cerita sambil ia memperhatikan anaknya di teras yang sedang bermain. Tidak lama, suaminya muncul dan mengambil alih tugas jaga anak dan menidurkannya kemudian berangkat ke kantor.
Setelah itu kami pun melanjutkan cerita. Tiba-tiba ia berkata bahwa kamu lagi di Makassar. "Oh ya!" Dengan nada datar ku menjawab. Entahlah, ekspresi muka yang biasa biasa saja mungkin membuatnya tak jadi menceritakan dirimu. Hanya sedikit ia ceritakan, mungkin ia menangkap sinyal bahwa saat itu saya tak sedang ingin membicarakan dirimu. Saya tiba tiba saja merasa begitu. Saya bingung harus bereaksu seperti apa. Senang? Tidak mungkin. Sedih iya. Andai kamu kabarkan kedatanganmu mungkin sy akan merasa dianggap sbg teman. Namun buat apa sy tahu keberadaanmu sekarang sementara kamu sendiri tak mengabari, tak ada rencana pertemuan. Teman bukan, pokoknya saya bukan siapa-siapa. Saya harus menahan emosi sedihku ketika membahasmu. Saya hanya berpikir sejenak, sungguh hanya 3 kali pertemuan denganmu, yang tak ada artinya bagimu, membuatku sesedih ini. Perasaan macam apa ini yang membuat begitu dalam. Namun kualihkan pembicaraan agar tal berlarut larut. Mencoba untuk realistis, menerima kalau kamu sudah memilih yang lain, punya kehidupan sendiri yang dari dulu memang begitu dan sama misteriusnya dengan sekarang. Sungguh saya tak bisa bertanya kepadanya, kamu datang tanggal berapa, dan kapan balik lagi. Saya merasa malu dan kalau mengetaguinya mungkin tak ada gunanya bagi saya. Bukankah pria yang mencintaimu memgabarimu, mengirimkan pesan duluan? Artinya memang sy hanya langit yang tertutup kabut sepanjang hari bagimu. Tak ada ruang bagiku. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah kamu butuh memyambung silaturahim lagi denganku, padahal selama ini yang butuh kau selalu hanya saya. Minta tolong ini minta tolong itu. Kamu sekalipun tak pernah meminta tolong padaku. Saya juga merasa canggung jadinya jika mengabarimu nanti dengan handpgone baruku.
Kedatanganmu, saya tak tahu harus berada di posisi senang atau sedih. Di satu sis saya berharap kamu datang bertemu denganku tapi sangatlah kecil kemungkinan kamu melakukan itu karena kamu telah memiliki mawar merah itu. Saya hanya bisa mendoakan dirimu agar senantiasa bahagia dan sukses mengejar mimpimu. Saya bukan bagian mimpimu. Saya hanya seseorang yang kamu temui di jalan yang sulit untuk diingat dan tak ada kepentingan bagimu untuk mentapaku. Saya juga berdoa agar saya juga bisa merasakan hal yang sama yang kamu tukan. Saya berharap bisa menemukan yang mencintaiku sepenuh hati dan kami berada pada prinsip yang sama. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini