Pesantren Keluarga
Abbahku(panggilan ayah di keluarga kami, karena kami Arab-Bugis) bukanlah seorang ustadz,imam,atau guru agama. Ia hanya lulusan MTS di kampung kami. Ia hanya rajin dengar kajian kitab,Al Quran, berdiskusi dengan ulama di kampung kami. Namun, ia sungguh menerapkan ajaran Al Quran dan sunnah. Ia mewajibkan anak
perempuannya berjilbab. Padahal masa itu jilbab belum banyak dikenakan katanya ga gaya. Dari TK sampe SMP sy bersekolah di pesantren. Saya setiap sekolah memakai jilbab. Pada saat kelas 2 SMP/MTS baru abbah menegur saya agar harus berjilbab bukan pada saat ke sekolah saja, tapi kapanpun ketika meninggalkan rumah. Untuk menyapu halaman rumahpun abbah tak mengijinkan anak perempuannya, karena ia tak ingin anaknya dilecehkan oleh pandangan nafsu pria. Bahkan kami dilarang berpacaran. Kami akan diberhentikan bersekolah jika berpacaran. Tamat MTS saya bermohon pindah ke skolah negeri yang cewe cowo siswanya campur. Sampai tetangga ikut memberi informasi bahwa sekolah negerinya bagus tidak seperti yang ia bayangkan, akhirnya abbah bersedia mengijinkan dengan syarat tidak boleh pacaran,kedapatan pindah sekolah di madrasah. Sy berhasil tamat tanpa record pacara. Begitupun kuliah, syaratnya sama tapi sanksinya lebih ekstrim, kedapatan berhenti kuliah. Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan kepercayaan abbah. Meski sekelilingku, teman teman berpacaran saya tak tergoda. Dipikiranku bagaimana bisa selesai dan bekerja agar bisa mandiri. Bahkan saya kadang berbohong kepada senior yang ingin berkenalan jika saya sudah punya pacar. Karena ia takkan berhenti jika ketahuan kita jomblo. Saya bisa dikasih ijin ke Sorowako bekerja dirantauan karena record tdk pernah pacaran. Meski aturan rumah seperti itu, setelah bekerja abbah telah memberi kepercayaan. Meski kadang saya mengajar hanya berdua denga murid pria, ia telah percaya anaknya takkan mudah terpengaruh dengan rayuan pria. Itulah abbahku ayah yang bagi orang lain kolot, tapi bagi kami ia melindungi anak perempuannya dari bahaya pria yang hanya mau memacari tidak mau menikahi. Kami pun ketika lewat di depan rumah tetangga, meski cowo banyak mereka tak berani menyapa pura2 beri salam dan semacamnya. Terimakasih abbah, dulu dikala orang masih minim informasi soal hubungan pria dan wanita tapi kamu telah membentengi kami. Meski kami berdua dgn pria ngobrol, kami akan mencari tempat ramai, kami selalu ingat padamu bahwa kami harus menjaga diri kami sebagai wanita. Menjaga pandangam kami. Menundukkan kepala ketika pria memandang kami. Terimakasih.
Abbahku(panggilan ayah di keluarga kami, karena kami Arab-Bugis) bukanlah seorang ustadz,imam,atau guru agama. Ia hanya lulusan MTS di kampung kami. Ia hanya rajin dengar kajian kitab,Al Quran, berdiskusi dengan ulama di kampung kami. Namun, ia sungguh menerapkan ajaran Al Quran dan sunnah. Ia mewajibkan anak
perempuannya berjilbab. Padahal masa itu jilbab belum banyak dikenakan katanya ga gaya. Dari TK sampe SMP sy bersekolah di pesantren. Saya setiap sekolah memakai jilbab. Pada saat kelas 2 SMP/MTS baru abbah menegur saya agar harus berjilbab bukan pada saat ke sekolah saja, tapi kapanpun ketika meninggalkan rumah. Untuk menyapu halaman rumahpun abbah tak mengijinkan anak perempuannya, karena ia tak ingin anaknya dilecehkan oleh pandangan nafsu pria. Bahkan kami dilarang berpacaran. Kami akan diberhentikan bersekolah jika berpacaran. Tamat MTS saya bermohon pindah ke skolah negeri yang cewe cowo siswanya campur. Sampai tetangga ikut memberi informasi bahwa sekolah negerinya bagus tidak seperti yang ia bayangkan, akhirnya abbah bersedia mengijinkan dengan syarat tidak boleh pacaran,kedapatan pindah sekolah di madrasah. Sy berhasil tamat tanpa record pacara. Begitupun kuliah, syaratnya sama tapi sanksinya lebih ekstrim, kedapatan berhenti kuliah. Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan kepercayaan abbah. Meski sekelilingku, teman teman berpacaran saya tak tergoda. Dipikiranku bagaimana bisa selesai dan bekerja agar bisa mandiri. Bahkan saya kadang berbohong kepada senior yang ingin berkenalan jika saya sudah punya pacar. Karena ia takkan berhenti jika ketahuan kita jomblo. Saya bisa dikasih ijin ke Sorowako bekerja dirantauan karena record tdk pernah pacaran. Meski aturan rumah seperti itu, setelah bekerja abbah telah memberi kepercayaan. Meski kadang saya mengajar hanya berdua denga murid pria, ia telah percaya anaknya takkan mudah terpengaruh dengan rayuan pria. Itulah abbahku ayah yang bagi orang lain kolot, tapi bagi kami ia melindungi anak perempuannya dari bahaya pria yang hanya mau memacari tidak mau menikahi. Kami pun ketika lewat di depan rumah tetangga, meski cowo banyak mereka tak berani menyapa pura2 beri salam dan semacamnya. Terimakasih abbah, dulu dikala orang masih minim informasi soal hubungan pria dan wanita tapi kamu telah membentengi kami. Meski kami berdua dgn pria ngobrol, kami akan mencari tempat ramai, kami selalu ingat padamu bahwa kami harus menjaga diri kami sebagai wanita. Menjaga pandangam kami. Menundukkan kepala ketika pria memandang kami. Terimakasih.
Komentar
Posting Komentar